Ziarah
Ini bukanlah tentang novel Ziarah karya Iwan Simatupang. Tetapi, tentang hidup pascamati.
Sesungguhnya setiap manusia yang sudah kembali berwujud ruh, mereka menunggu.. Menunggu orang yang dikenalnya untuk datang menjenguk jasadnya.
Nabi saww mengajarkan agar mengucap salam ketika memasuki pekuburan. Untuk apa? Bukankah penghuni kubur tersebut adalah orang-orang yang sudah mati, jasad sudah atau sedang membusuk untuk kembali menjadi tanah? Ketahuilah.. Bahwa yang mati hanyalah jasad, ruh tetap hidup di alam lain. Ketika terucap salam “assalãmu’alaikum yã ahlul kubur..!” seperti yang diajarkan Nabi saww, seketika ruh sang ahlul kubur akan segera melesat memasuki jasadnya, untuk menjawab salam tefsebut. Pemilihan kata ganti ‘kum’ menunjukkan bahwa terjadi dialog langsung antara pengucap salam dengan orang kedua yang diajak bicara, ruh ahlul kubur.
Terlebih ketika kita, sesudah salam, mendoakan sang ruh dan membacakan Al-Fãtihah untuknya.. Ruh tersebut akan senang bukan kepalang, kegembiraannya seperti menerima kebaikan bergunung-gunung besarnya. Telah pula diajarkan bahwa ketika seorang anak Adam mati, hanya 3 hal yang mampu menolongnya hidup di alam kubur: 1) amal sholeh dan 2) ilmu yang bermanfaat; serta 3) do’a anak yang sholeh.
Karena itu.. Di malam Jum’at yang mustajab ini, mari mendoakan mereka yang telah mendahului kita.. Dan esok sempatkan untuk berziarah, agar dapat kita mengucap salam. Semoga mereka hidup tenang dan senang di alam sana.
Posted with WordPress @sfBerry.
Pekak
Awal mulanya adalah status FB yang provokatif tentang keinginan mengebom mushala karena berisik.
Ya.. Memang berisik. Corong pengeras suara disetel melebihi rerata level suara di mushala kebanyakan. Entah karena baru selesai renovasi dus jadinya sekalian beli ampli baru, ataukah karena ghirah beragama yang demikian tinggi.. Yang jelas terasa, pekak ditelinga. Bagaimana dengan yang tinggal persis berdampingan?
Jangan-jangan ada yang salah dengan iman ini sehingga teeganggu dengan teriakan shalawat sekian desibel tersebut? (hmm… pasti ini disebabkan pergaulan dengan kaum sifilis*. Awas kalian.. Kembalikan imanku!)
Sebenarnya, adakah peraturan yang mengatur seberapa kuat pengeras suara rumah ibadah dapat dibunyikan tanpa mengganggu kepentingan publik atas lingkungan yang tenang? Gereja memang senyap. Paling-paling hanya dentang lonceng dan suara sayup koor kidung pujian saat misa. Tetapi kesenyapan ini sepertinya menjadi keniscayaan, karena jika gaduh seperti masjid itu namanya cari penyakit.
Cari penyakit? Ya.. Ada yang sakit dalam praktik beragama saat ini. Muslim dibiarkan menjadi radikal. Pemahaman literal dibebaskan untuk tumbuh. Ummat mencari katarsis atas kesusahan hidup dengan janji surga yang diobral murah oleh ustadz-ustadz pengumbar nafsu perang macam Ba’asyir.
Sepatutnya, corong masjid/mushala hanya dibunyikan saat diperlukan untuk mengumandangkan azan lima waktu, khutbah dua ‘Ied, dan saat ada perayaan hari-hari besar. Jika masih satu jam sebelum masuk waktu shalat, tak usahlah dinyalakan. Kasihanilah orang-orang yang suka shalat di akhir waktu model saya ini. Kasihani pula ibu-ibu yang anak balita mereka sedang asyik terlelap.
_____________________________
*typo: sipilis. Sekularis, pluralis, liberalis. Telah diharamkan oleh fatwa MUI–jadi saya telah bergaul dengan orang-orang haram? Masyaallah!
Terpotong
Ia mencak-mencak. Sebenarnya, sudah menjadi kebiasaannya. Tapi kali ini lain.
Tidak satu pun yang berani bersuara. Yang tadinya terdengar bercakap-cakap, sontak tidak terdengar. Hening, melebihi kuburan. Anginpun berhenti bertiup. Satu per satu mencelat keluar ruangan, takut menjadi sasaran amuk. (lagi…)
Week of feeling unjust and left behind
Ini adalah sebuah catatan yang muram dan kelam. Berhentilah membaca sekarang juga kalau anda tidak ingin keyakinan anda akan Tuhan tergerus dan tergerogoti.
Pekan ketiga Mei ini adalah pekan gundah gulana. Pekan dari hari-hari di mana terasa sekali ketidakadilan dan kesendirian. Ketidakadilan atas nasib yang terasa tidak berpihak kepada hamba yang sudah berjuang menjalankan aturan Tuhan. (lagi…)
PDF

