Soliloquy#1

7 April 2008

Hidup sebenarnya kalau dipikir-pikir nggak beda dengan togel, dalam hal ketidakpastian. Apakah pasti apa yang kita pikirkan, harapkan, rencanakan.. itukah yang terjadi? Itulah mengapa aku paling males menargetkan sesuatu, karena toh yang-di-atas-sana-lah yang menentukan. Kan semua nasib sudah Ia tulis sebelumnya.

Pesimis? bisalah kau bilang begitu.

Kamu jungkat-jungkit sholat. puasa menahan lapar dan syahwat. Apa yakin mati nanti masuk surga, sementara pelacur saja yang seumur hidup melonte bisa masuk surga karena sekedar memberi minum anjing yang kehausan.

Itukah keadilanmu, Tuhan?

***

[Catatan: entri ini merupakan salinan dari blog di friendster, ditulis pada 31 Maret 2006. Kebetulan, pagi tadi saya membaca 'gugatan' kepada Tuhan dan kehidupan yang semangatnya hampir serupa, tulisan dijenorie di wordpress. Tolonglah, jangan labeli kami yang bertanya ini dengan label macam-macam. Semua ini hanya upaya menuju kebenaran dan keyakinan yang hakiki.]

Entry Filed under: Kehidupan. Tag: .

4 Comments Add your own

  • 1. norie  |  7 April 2008 at 1:50 pm

    waktu aku masih kecil aku pernah membaca sebuah buku cerita. Buku itu unik. Bukan sampul yang menarik bagi ku, tapi bagaimana mana plot cerita itu di bangun. Dalam buku itu kita diberikan pilihan atas jalan cerita. Misalnya saja kita diberikan pilihan:
    a) pergi menuju lembah tempat harta karun tersembunyi
    b) kembali ke pesisir menolong profesor
    c) Kembali ke kota dan mencari pertolongan

    Dalam buku tersebut kita diberi banyak pilihan. Dan setiap pilihan membawa kita pada ending (baca: konsekuensi) yang berbeda.
    Membaca buku tersebut menempatkan kita keleluasaan memilih. Namun selalu mengantarkan kita pada keterbatasan untuk menentukan konsekuensi.

    ———–
    Bisa jadi hidup ini berada di dalam dua keniscayaan. antara kepastian dan ketidakpastian (nasib). Bukankah kita sebagaimana manusia diberikan akal untuk menetukan berbagai pilihan dalam hidup. walau kadang lebih sering membiarkan hal-hal diri kita yang membentuk pilihan-pilihan kita. Misalnya saat kita harus mengambil jurusan tertentu karena orang tua menginginkan demikian.
    Seperti buku cerita yang saya baca dulu. Walau pun dalam alur kehidupan kita dihadapkan dengan berbagai pilihan. toh kita tak sanggup mengatur konsekuensi dari plot yang kita pilih.

    ———-
    satu hal yang saya pelajari. bahwa plot/ atau pilihan kisah hidup yang kita pilih hanya akan berujung pada satu ending: yakni kematian. tak ada makhlu yang lolos dari kematian. Setidaknya kematian adalah kepastian hakiki.
    Bukan kapan dan dimana kita mati. Tapi bagaimana kita mati itu yang jadi fokus kita. mau dikenal sebagai apa kita ini? (maaf, mau dilabeli apa kita ini?)

  • 2. norie  |  7 April 2008 at 1:51 pm

    Seribu maaf saya haturkan, bilamana tulisan saya tidak berkenan.
    Maafkanlah.
    *peace* :)

  • 3. sutan  |  7 April 2008 at 5:28 pm

    no..no… tidak ada yg salah dengan tulisanmu, norie. Sudut pandang yang jarang dipakai oleh orang ‘biasa’. Salut! :-)

  • 4. Irfani Latif  |  14 November 2008 at 1:49 pm

    Memang…

    Pena-pena telah diangkat
    Lembaran-lembaran telah kering

    Masing-masing takdir kita telah ditetapkan…
    tetapi berusahalah sahabat,
    Karena setiap orang akan dimudahkan_Nya untuk menjalani takdirnya masing-masing…

    Hanya mungkin kurangnya kesabaran dan kebijaksanaan kita saja sehingga kita belum mampu melihat cahaya keadilan_Nya mengatur hidup ini…

Leave a Comment

You must be logged in to post a comment.

Trackback this post  |  Subscribe to the comments via RSS Feed


Menulislah sebelum engkau ditulisi

Baru ditulis

Banyak dibaca

Berguna

Jelajah

beranda_rounded

tamu

kotak pandora

Kampanye “Any browser”