Memburu gabus pucung, malah dapat kampret

29 Agustus 2008

Hari sudah hampir jam setengah dua belas. Sekarang saat terakhir, atau tidak sama sekali. Yap! akhirnya aku dan Scozal segera melesat, menembus jalan ke arah Bekasi dari Pulo Gadung. Masya Allah! bisa-bisanya orang terbiasa dengan kemacetan, panas, dan debu seperti ini. Bayangkan truk tronton, bus besar, mikrolet, motor, … semua bercampur menjadi satu memancarkan asap timbal –yang dijamin bikin anda impoten jika terakumulasi berlebihan– dan debu di sepanjang jalan yang dipinggirnya berdiri kalau tidak pabrik, bengkel, gudang, pastilah kios.


Tujuan kita satu: kedai Sayur Gabus Pucung H. Udin Kombo di Harapan Indah, Bekasi. Bulan Puasa sudah di depan mata, inilah hari terakhir untuk menikmati masakan Betawi yang kesohor itu sebagai penyumpal perut yang keroncongan di siang hari. Sebelumnya aku sudah membacanya di blog waregbanget, dan dua pekan lalu ditayangkan di JakTV. Hmm.. menitik air liur ini membayangkan kelezatan sayur ikan gabus yang lebih tepat disebut gulai gabus bercampur pucung (kluwek). Yumm!

Untuk menemuan kedai ini tidak butuh akal yang berlebih, alias pasti bisa dilakukan oleh mereka dengan IQ pas-pasan sepertiku. Bagaimana tidak, lha jalannya lempang saja dari Pulo Gadung ke arah Bekasi, lebih kurang 4 km. Tepat sehabis Gedung Sosro (yang ada di sebelah kanan jalan), terlihat gerbang masuk pemukiman Harapan Indah yang memang benar-benar lebih indah dari gerbang masuk kawasan Kelapa Gading. Masuk, belok kiri sehabis boulevard besar, belok kiri lagi sesudah sports center. Jika anda sudah mencium bau sawah berlumpur dan melihat pemancingan ikan, anda sudah dekat sekali. Putar balik di depan Kantor Polisi yang berwarna-warni seperti taman kanak-kanak, lewati jalan kerikil sebentar. Yap, anda sudah sampai. Seperti halnya aku sekarang ini. Akhirnya, bisa juga kubuktikan kenikmatan sayur gabus yang bikin mampus, kata waregbanget. Perut kenyang sehabis menyantap gabus, klepus-klepus dji sam soe sambil menikmati sejuknya semilir angin sawah, indah tiada terkira.

Setelah Scozal tenang memulihkan diri di bawah pohon ceri, aku bergegas masuk ke dalam. Belum sampai di pintu masuk, seorang ibu berteriak: “Pak, tutup. Ntar seminggu puasa baru bukaa..!”

“Kampret!!” jawabku dalam hati. Pantas saja tidak ada satupun kendaraan di halaman parkir.
“Kampreeeeeeeeeeeeeeeet..!!!”


Entry Filed under: Selera. Tag: .


Menulislah sebelum engkau ditulisi

Baru ditulis

Banyak dibaca

Berguna

Jelajah

beranda_rounded

tamu

kotak pandora

Kampanye “Any browser”