“Bego..!”
23 April 2009
Malam Jum’at sepekan silam, saya pulang dari kantor agak malam. Menempuh rute seperti biasa, namun yang biasanya lurus ke arah Sudirman melewati Bappenas, kali ini belok kiri, melintasi rumah dinas Bapak Wapres JK (“Selamat sore, Pak Wapres. Apa kabar? Maju terus, Pak.., pantang mundur! Jangan dengarkan orang. Memang lebih cepat itulah yang lebih baik..”), Markas Brigade Motor PM, hingga tiba di perempatan Halimun/Taman Banjir Kanal Barat.
Beeja saya hentikan tepat sebelum garis putih, karena di depan, palang perlintasan kereta mulai bergerak turun ditingkahi dengan bunyi belnya. Ting nong ting nong ting nong…. Ingat, khan? rambu jalan yang berbunyi ‘Lampu lalu lintas tidak berlaku jika kereta lewat’.
Selesai kereta lewat, begitu gas mulai dibetot, lampu menyala merah. Hiyyaaa! apa mau dikata, menunggu lagi sampai lebih dari lima menit, menanti lampu berganti hijau pertanda boleh jalan.
Hijau! Beeja menggerungkan suaranya yang khas, bergerak maju dengan cepat. Tiba-tiba, ada seekor unggas beserta pengendaranya enak saja menyelonong tanpa rasa bersalah sedikitpun. Reflek, disertai lengkingan Stebel Nautilus, terlontarlah makian dari mulut ini: “Begoooo….!!!” Pengendara unggas itu membalas: “Elhuu, yang begoooo..!!!!!”
Umpatannya membuat saya, sampai blog ini ditulis, tak habis pikir
dan mulai meragukan intelektualitas diri sendiri. Siapakah sebenarnya
yang bego.
Entry Filed under: Uncategorized. .
PDF


Trackback this post | Subscribe to the comments via RSS Feed