KHILAFAH ISLAM vs NKRI PANCASILA*

oleh KH Masdar Farid Mas’udi**
(Rois Syuriah PBNU)

NCMS @OBS

1 – Apa itu ISLAM?
Dari kata SALAM (SALOM, Ibrani) yang berarti DAMAI.
ISLAM merupakan bentuk transitif yangberarti MENGHADIRKAN keDAMAIan, baik dalam kehidupan DIRI SENDIRI maupun–dan terutama–kehidupan SESAMA. Maka SIAPA MUSLIM ITU?

Seorang muslim adalah orang yang mampu menjamin kedamaian (salam) kepada manusia lain, baik dengan mulut maupun tangannya; Mukmin adalah orang yang mampu menjamin rasa aman kepada orang lain, baik darah maupun hartanya.” (HR Nasa’ie & Ahmad)

2 – Negara Islam atau Negara Keadilan?
Istilah ‘Negara Islam (Dawlah Islamiyah/Khilafat Islamiyah)’ sendiri tidak ada dalam dokumen/nash QURAN maupun HADIST. Sejalan dengan pengertian dasar ISLAM di atas, maka NEGARA yang diidealkan oleh Islam bukanlah NEGARA yang secara resmi disebut atau berlabel ISLAM, melainkan ‘NEGARA yang BERKEADILAN’:

Sungguh Allah menyuruh kalian untuk memenuhi amanat kepada yang berhak, dan jika kalian memerintah/menetapkan hukum di antara manusia, haruslah dengan keadilan.” (QS Annisa [4]:58)

Ada tujuh orang yang bakal mendapatkan perlindungan Allah di Hari Kiamat pada hari tanpa perlindungan selain daripada-Nya; Pertama, pemimpin yang adil …, Ketujuh, yang mensedekahkan hartanya tanpa memamerkannya.” (HR Al-Bukhari)

Allah menolong Negara Berkeadilan meskipun kafir (secular), dan tidak menolong Negara yang lalim meskipun mukmin.” (Ibn Taimiyah)

Jika tanda-tanda keadilan telah menampakkan diri dengan jalan mana pun, mana di sana syariat Allah dan agama-Nya berlaku. Dengan jalan mana saja keadilan dapat ditegakkan, maka di sana ada kesesuaian dengan agama, bukan berseberangan; Tidak dapat dikatakan politik yang berkeadilan bertentangan dengan syariat, bahkan sesuai dengannya; sejalan dengannya.” (Ibn Al-Qayyim Al-Jauziy)

3 – NKRI dengan Pancasilanya: Bukan Negara Islam, tapi Negara Islami
Ketuhanan Yang Maha Esa (Tauhid), sebagai Landasan Spiritualnya;
Kemanusiaan yang Adil dan Beradab (Karamatul Insan), sebagai Landasan Moralnya;
Persatuan (Ukhuwwah) Indonesia, sebagai Acuan Sosialnya;
Kerakyatan Yang Dipimpin oleh Hikmah Kebijaksanaan dalam Permusyawaratan/Perwakilan (Syura), sebagai Acuan Politiknya;
Keadilan Sosial bagi Seluruh Rakyat Indonesia (Al-Adalah), sebagai Tujuan dan Muaranya.

4 – Seberapa Penting Keutuhan NKRI dari Sabang sampai Merauke?
Dunia yang damai, hanya mungkin jika ada keseimbangan antara 4 kekuatan Peradaban Dunia: Kristianisme (Eropa & Amerika), Budhisme (Cina), Hinduisme (India), Islamisme (Indonesia?!)
NKRI dari Sabang sampai Merauke merupakan harga mati, demi kelayakan Indonesia sebagai Pemimpin Dunia Islam yang disegani.

5 – Kontribusi Nahdhatul Ulama (NU) untuk keutuhan NKRI
– Persetujuan NU melalui Rois Akbar KH Hasyim Asy’arie, terhadap dihilangkannya 7 kata dalam Pembukaan UUD 1945 / Piagam Jakarta.

– Resolusi JIHAD Munas Alim Ulama NU tanggal 22 Oktober 1945 demi mempertahankan Keutuhan NKRI Pancasila dari penjajah Belanda yang datang kembali menumpang Sekutu.

– Partisipasi penumpasan kudeta Komunisme tahun 1965.

– Penegasan Munas PBNU Tahun 1984, bahwa NKRI dengan PANCASILA-nya sebagai final.

6 – Apa Agenda ke depan?
Tanggung jawab NU: Sebagai kekuatan keagamaan – keulamaan dominan di Indonesia, di satu pihak harus lebih aktif mempromosikan pemahaman dan akhlak keagamaan yang penuh kelembutan dan penghormatan, sekaligus menjauhi ‘keberagamaan yang penuh kekerasan dan penistaan kepada sesama’.

Tanggung jawab Pemerintah: Sebagai penanggung jawab politik dan sosial, pemerintah harus lebih bekerja keras untuk mempercepat terwujudnya keadilan dan kemakmuran bagi seluruh rakyat terutama yang lemah, apapun agama dan keyakinannya (HR Muslim).

Penguasa adalah payung Allah di muka bumi, kepadanya orang-orang yang teraniaya mendapatkan perlindungan.” (HR Baihaqie).

Allah tidak merahmati suatu bangsa di mana si lemah tidka bisa mendapatkan hak-haknya dari yang kuat tanpa harus dengan susah payah.” (HR Baihaqie).

Hindarilah menghukum orang, semampu mungkin selagi ada jalan; karena kesalahan pemimpin dalam mengampuni lebih baik daripada salah memberi sanksi.” (HR Tirmidzi)

———-
* Materi handout yang disajikan dalam kajian Titik Temu NCMS: “Etika Politik dan Misi Sosial Agama” di Omah Btari Sri, 25 Juli 2013. (Disalin sebagaimana adanya, dengan sedikit penyuntingan minor-SF).

** Ketua P3M, Penulis buku “Syarah UUD 1945 Perspektif Islam”, dan “Pajak itu Zakat, Uang Allah untuk Rakyat”

Iklan

Tinggalkan komentar

Filed under Uncategorized

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s